Minggu, 04 November 2012

cerpen


Ternyata Dia, bukan Aku

Seperti indah pelangi, mejikuhibiniu. Mentereng bergaris-garis di langit biru bercampur putih nan abu. Saatku kecil sih kalau ada pelangi begin berarti lagi ada putrid langit mandi. Tapi untuk sekarang setelah aku bisa dibilang dewasa, aku merasa tak peru pecaya lagi, itu mah Cuma tahayul. Elegy tahayul yang sampai kini masih saja dipercayai. Omong kosong!
Jadi teringat 365 hari silam yang kelam. Saat hasrat besarku begitu meluap untuk memanggang sisa-sisa oksigen yang kuhembuskan dari lubang kecil hidungku dengan sia-sia di perapian penghangat tubuh, rasa asaku putus terpotong jangkrik yang menggrogoti separuh hatiku dalam memperjuangkan hidup. Kini seakan tak ada lagi sepenggal kesuksesan menyentuh hidupku. Organ ini terasa lemah, letih, kekurangan ion, tenaga merosot 98%, dan untungnya 2% telah menyisakan sisa positif yaitu masih ada signal lewat asupan suplemen dari Dia. Dia adalah perbedaan yang mempunyai pengaruh baik untukku. Sudah sampai situlah aku mengenalinya. Sedikit demi sedikit hapusan noda-nooda yang menempel dibaju seragam putih abuku dikerjakannya. Memberiku bahagia, memberi artian hidup yang berbeda.
Berawal lewat via handphone merah cantik mewarnai aku mulai berkenalan dengannya. Celoteh kata per kata terkadang menciptakan gelak riang tanpa sendu, malu sendiri bilaku menyadari tingkah anehku ini. Mengajakku untuk menceeritakan tentang hobiku, kemudian tentang lelakiku pun sempat dia tanyakan.  Kataku, buku-bukulah lelakiku saat-saat sekarang yang lebih dulu ingin kumiliki. Mencari, tepatnya bukan mencari melainkan menemukan lelaki sejati itu bukan hal mudah. Aku sendiri masih dibingungkan oleh sosok sejati itu seperti apa adanya. Bisa dilihat dari baiknyakah? Sopannyakah? Perhatiannyakah? atau besar cinta dan pengorbananyakah? Entahlah.
Detik terus saja berdenting memecahkan suasana sepi, hari-hariku bermelodi seperti nada lagu-lagu pop indohits baru terpopuler, dari manakah semua ini? Iya benar. Dari dia. Dia punya kata agar hidupku tidak membosankan, membertahu trik-trik bagaimana cara kita mencintai pelajaran matematika yang memusingkan otak, fisika yang merumitkan, dia mengibaratkan itu semua selayak jemari-jemari kita asyik memainkan senar gitar seperti kesukaanku dengan musik yang diiringi gitar.
Jarak umurku tak jauh beda dengan dia. Satu abad kurang dua belas koma dua puluh lima windu kurang lebihnya. Banyak temenku yang sombong, dia yang sok pinter, dan satu lagi entah kenapa senyumanya susah diobral kesemua orang padahal itu jarang banget aku temuin saat aku dekat dengan dia.
Tahun baru telah hanyut tertelan bumi lima belas hari yang lalu, dan hariku merasakan tidak enaknya menelan butir-butir pil pahit kecil pemberian orang yang suka menyembuhkan penyakitku, tubuh mungilku terbaring pucat diatas keranjang tempat tidur ukuran 1,75 m x 1 m. kasihan bundaku dibikin terus saja dibikin repot olehku. Tapi siapa lagi yang mau mengurusiku sedangkan dia hanya melihatku sekejap mata, paling-paling duduk di beranda bersama temannya sambil menikmati secangkir kopi kapucino buatan bunda. Setelah hampir 30 menit kurang 7 detik dia serta teman-temannya meninggalkan rumahku dengan salam sapa yang kubalas ulasan senyum. Mungkin akan kurindu kedatangannya lagi dikemudian hari.
Tidak lama dari waktu itu aku dapat menginjak tanah sekolah kembali, kerjakan latihan-latihan soal pemberian guru. Sayangnya tampak ada hal aneh dalam gerak pandang teman kelas sebelah terhadapku. Ternyata rasa keanehanku terjawab ketika si teman dekatnya bertanya padaku soal kedekatanku dengan dia, Ello Setiawan yang sudah lama dikagumi oleh teman kelass sebelahku. Ello merupakan hal berarti baginya. Dia marah padaku, dia mulai benci padaku, hatiku tak karuan atas perlakuannya padaku, otakku mulai bingung memikirkannya.
Ya sudahlah, mungkin makna menjauh dari Ello adalah pilihan bahagia penuh untuknya, sedikit untukku. Karena ikatan teman masih ingin kujalin bareng teman kelas sebelahku. Apalah daya, mengalah adalah pilihan terbaik. Meski permataku sesekali tidak kuasa kubendung melepaskan teman yang baru saja berhasil menyetimulasiku dan aku harus tega meninggalkannya di tengah jalan. Kado terima kasih merupakan hadiah atas sejuta pengertian dan perhatianmu kemarin, sekaligus ucapan minal’aidzin walfaidzin dari kecletotan kakiku melangkah.

Kata…
Kata, jika boleh aku meminta, aku masih punya beribu-ribu kisah untuk kamu dengarkan yang belum sempat kuceritakan padamu Ello Setiawan.
Dan ternyata kamu harus lebih mendengakannya, bukan aku.

LaLa praTama, 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar