Ternyata Dia, bukan Aku
Seperti indah pelangi, mejikuhibiniu. Mentereng
bergaris-garis di langit biru bercampur putih nan abu. Saatku kecil sih kalau
ada pelangi begin berarti lagi ada putrid langit mandi. Tapi untuk sekarang
setelah aku bisa dibilang dewasa, aku merasa tak peru pecaya lagi, itu mah Cuma
tahayul. Elegy tahayul yang sampai kini masih saja dipercayai. Omong kosong!
Jadi
teringat 365 hari silam yang kelam. Saat hasrat besarku begitu meluap untuk
memanggang sisa-sisa oksigen yang kuhembuskan dari lubang kecil hidungku dengan
sia-sia di perapian penghangat tubuh, rasa asaku putus terpotong jangkrik yang
menggrogoti separuh hatiku dalam memperjuangkan hidup. Kini seakan tak ada lagi
sepenggal kesuksesan menyentuh hidupku. Organ ini terasa lemah, letih,
kekurangan ion, tenaga merosot 98%, dan untungnya 2% telah menyisakan sisa
positif yaitu masih ada signal lewat asupan suplemen dari Dia. Dia adalah
perbedaan yang mempunyai pengaruh baik untukku. Sudah sampai situlah aku
mengenalinya. Sedikit demi sedikit hapusan noda-nooda yang menempel dibaju
seragam putih abuku dikerjakannya. Memberiku bahagia, memberi artian hidup yang
berbeda.
Berawal lewat via handphone merah cantik mewarnai aku mulai berkenalan dengannya.
Celoteh kata per kata terkadang menciptakan gelak riang tanpa sendu, malu
sendiri bilaku menyadari tingkah anehku ini. Mengajakku untuk menceeritakan
tentang hobiku, kemudian tentang lelakiku pun sempat dia tanyakan. Kataku, buku-bukulah lelakiku saat-saat
sekarang yang lebih dulu ingin kumiliki. Mencari, tepatnya bukan mencari
melainkan menemukan lelaki sejati itu bukan hal mudah. Aku sendiri masih
dibingungkan oleh sosok sejati itu seperti apa adanya. Bisa dilihat dari
baiknyakah? Sopannyakah? Perhatiannyakah? atau besar cinta dan pengorbananyakah?
Entahlah.
Detik terus saja berdenting memecahkan suasana sepi,
hari-hariku bermelodi seperti nada lagu-lagu pop indohits baru terpopuler, dari
manakah semua ini? Iya benar. Dari dia. Dia punya kata agar hidupku tidak
membosankan, membertahu trik-trik bagaimana cara kita mencintai pelajaran
matematika yang memusingkan otak, fisika yang merumitkan, dia mengibaratkan itu
semua selayak jemari-jemari kita asyik memainkan senar gitar seperti kesukaanku
dengan musik yang diiringi gitar.
Jarak umurku tak jauh beda dengan dia. Satu abad
kurang dua belas koma dua puluh lima windu kurang lebihnya. Banyak temenku yang
sombong, dia yang sok pinter, dan satu lagi entah kenapa senyumanya susah
diobral kesemua orang padahal itu jarang banget aku temuin saat aku dekat
dengan dia.
Tahun baru telah hanyut tertelan bumi lima belas
hari yang lalu, dan hariku merasakan tidak enaknya menelan butir-butir pil
pahit kecil pemberian orang yang suka menyembuhkan penyakitku, tubuh mungilku
terbaring pucat diatas keranjang tempat tidur ukuran 1,75 m x 1 m. kasihan
bundaku dibikin terus saja dibikin repot olehku. Tapi siapa lagi yang mau
mengurusiku sedangkan dia hanya melihatku sekejap mata, paling-paling duduk di
beranda bersama temannya sambil menikmati secangkir kopi kapucino buatan bunda.
Setelah hampir 30 menit kurang 7 detik dia serta teman-temannya meninggalkan
rumahku dengan salam sapa yang kubalas ulasan senyum. Mungkin akan kurindu
kedatangannya lagi dikemudian hari.
Tidak lama dari waktu itu aku dapat menginjak tanah
sekolah kembali, kerjakan latihan-latihan soal pemberian guru. Sayangnya tampak
ada hal aneh dalam gerak pandang teman kelas sebelah terhadapku. Ternyata rasa
keanehanku terjawab ketika si teman dekatnya bertanya padaku soal kedekatanku
dengan dia, Ello Setiawan yang sudah lama dikagumi oleh teman kelass sebelahku.
Ello merupakan hal berarti baginya. Dia marah padaku, dia mulai benci padaku,
hatiku tak karuan atas perlakuannya padaku, otakku mulai bingung memikirkannya.
Ya sudahlah, mungkin makna menjauh dari Ello adalah
pilihan bahagia penuh untuknya, sedikit untukku. Karena ikatan teman masih
ingin kujalin bareng teman kelas sebelahku. Apalah daya, mengalah adalah
pilihan terbaik. Meski permataku sesekali tidak kuasa kubendung melepaskan
teman yang baru saja berhasil menyetimulasiku dan aku harus tega
meninggalkannya di tengah jalan. Kado terima kasih merupakan hadiah atas sejuta
pengertian dan perhatianmu kemarin, sekaligus ucapan minal’aidzin walfaidzin
dari kecletotan kakiku melangkah.
Kata…
Kata,
jika boleh aku meminta, aku masih punya beribu-ribu kisah untuk kamu dengarkan
yang belum sempat kuceritakan padamu Ello Setiawan.
Dan
ternyata kamu harus lebih mendengakannya, bukan aku.
LaLa
praTama, 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar