Satelit dan Bintang kita
Saya selalu berdoa pada Tuhan, agar saya cepat dikaruniai kejernihan
akal untuk mendamaikan pintu hati pujaan hati, dambaan hati yang akan saya cintai hingga mati.
Saya akui, ini bukanlah keinginan saya mengikutsertakan diri saya
untuk berkenalan dengan wajah-wajah orang mulia. Bisa dibilang demikian karena
pakaian longgar kebesarannya selalu nempa kepicikan jalan pikir orang yang bisa
disebut sebagai bawahannya atau sekalian muridnya menjadi lebih halus. Dan
mulai sekarang oleh permintaan pujaan hati, dambaan hati yang akan saya cintai
sampai mati, saya mencoba berusaha menenangkan diri di tempat ini. Tempat asing
bagi saya bukan bagi mereka. Mereka para tetua penghuni lama tempat ini dan
calon teman saya yang juga masih baru. Gelar santri baru menempel didadaku,
penghuni sebuah tempat yang dinamakan pesantren.
Menghitung mana bintang mana satelit, membedakan antara kedeuanya.
Saya sangat mengangeni ritual rutin itu bersaa ade dan pujaan hati, dambaan
hati yang akan saya cintai sampai mati diberanda rumah gubuk. Waktunya sekarang
tidak sedemikian santainya lagi. Waktu santai kemarin-kemarin telah diganti. Entah
diganti model apa, jelasnya wajah-wajah mulia yang famous dipanggil dengan
ustadz ini menerangkan beraneka macam kajian agama.
Awam sekali telinga – mata saya menikmati ceramahan ustadz Qiwe.
Lagaknya sok keren kayak anak betawi. Ngajarnya aja pake acara “Gue – Lo” an
segala, masalah buat loooh, terus Gue harus bilang wooow gitu ngliat ustadz
yang lebay.
Maaf atas kejujuranku. Tapi satu dari sekian kelebihan ustadz Qiwe yang tidak bisa saya elak yaitu
beliau renyah sekali membaca Al-Qur’an.
Dari mana saya tau? Padahal beliau tidak memegang pelajaran BTA
(Baca Tulis Al-Qur’an) melainkan kreasi seni santri putra-putri seperti drama,
membaca puisi, juga bernyanyi.
Ustadz Qiwe betul-betul berkepribadian ganda. Saya saja membaca A ba
ta sampai akhir huruf arab belum hafal. Pengalaman menarik sekaligus aneh menghadapi ustadz yang satu ini.
Kehilangan rutinitas bersama ade, itu sudah pasti, pagi di kelas, siang di
madrasah, sore di madrasah, masa malam hari juga harus di madrasah, ooh tidak.
Saya kepingin malam itu dijadikan hari pembebasan. Mencoba sekali pergi tanpa
konfirmasi, saya rasa bukan masalah serius. Toh sekarang pelajaran Abah, tidak
pernah diabsen.
Begitu sekembali
dari tempat rahasia saya, sepi dari mulut-mulut yang menyambut. Syukurlah. Satu
– tiga, lainnya tertidur dan akhirnya ada sapaan untukku. “Hey mas Lian! Ke
mana aja tengah malam begini baru pulang” tegur salah satu teman lian.
“Habis cari angin mas” sahut lian singkat
“Tadi dicari sama tadz Qiwe tuh mas, katanya pelajaran abah kok
berani-beraninya bolos”
“Loh, kok bisa ustadz Qiwe tau kalau saya bolos”
“Wong Abah gak rawuh weh mas, katanya sih lagi njemput putranya yang
baru pulang dari pesantren”
“Oooh, eh tapi kenapa putranya gak nyantri disini aja ya mas, malah
gratis kalau nyantri di pondok sendiri, lebih enak malah, lebih bebas.
“Kurang faham loh mas kalau soal itu” he he he
Yo wis mas Lian saiki tidur wae, besok kita harus bangun pagi-pagi
sekali. Janagn sampai telat masa. Ba’da subuh ada ceramah abah. Aksen bahas
jogjanya mulai keluar.
Wahai pujaan hati, saya rasa saya sudah mulai peka dengan suasana
yang kau inginkan. Memang berat sekali meninggalkan kau mengolah ladang tanpa
sentuhan tenaga saya bukankah ini menjadi cita-cita kau juga? Tapi wahai pujaan
hati, maafkan saya atas kenakalan yang kurang terpuji. Stelah minggu kemarin
mengikuti ceramah Abah ba’da subuh, malamnya saya kembali meninggalkan kelas tanpa
surat resmi. Apakah kau ingin tau wahai pujaan hati, saya melangkah kemana?
Seperti
rutinitas kita diberanda rumah gubuk menikmati benda pijar. Disitu saya
membayangkanmu wahai pujaan hati. Tersenyum pada saya dan di samping kau ada
ade yang tersenyum. Hanya itu tanpa sebersit tergambar topeng monster lelaki
kau. Saya muak dengannya wahai pujaan hati. Lelaki egois tidak memberi makan, minum,
pakaian. Jadi cukup saya membayangi wajah indah kau saja yang mulai keriput
tanda menua dan lucunya senyum ade.
Kebiasaan melamun menjadikan orang tidak
sadar akan keadaan sekitar. Sampai ada teguran seseorang pun seringnya tidak
digubris.
“Ente gak ngaji?” sapa seseorang pada Lian
Bukan disengaja, Lian memang tidak sadar dengan sapaan.
“Wooi ente, ditanya malah bengong” menyenggol bahu Lian.
“Eh …. Gue ….s” Lian terkaget melihat orang yang dikenalnya.
“Ente gak ngaji?”
“Mmmm eng .,…. Gak gu….s” wajah Lian masih tertunduk takut.
Dari mana Gus Rahman tau tempat rahasia saya. Bukannya putra Abah
yang kemarin baru datang dari kota ini selalu di rumah. Kenapa dia tau saya
disini.
Akan bertambah
rumit rupanya persoalan saya. Menghindar bukanlah pilihan cerdas. Pasrah menanti
panggilan Abah kalau memang Gus Rahman bercerita. Malam itu kami pulang bersama
ke tempat agung dalam hening.
Pagi sampai sore tidak ada kegaduhan mengenaiku. Kayanya Gus Rahman
masih berbaik hati membebaskan saya. Keberuntungan masih memegang langkah nakal
saya. Aneh, kelihatannya Gus Rahman kurang suka waktu menemuiku di tempat
rahasia. Ah lupakan, jelas-jelas Dewi fortun masih memberkati saya.
Belum lagi kerinduan dengan pujaan hati, akan segera terobati oleh
liburan lebaran haji atau biasa terkenal dengan tradisi pesta potong daging
kurban, muncullah kegegeran tentang saya, terkhusus untuk saya yang tidak
diperbolehkan menikmati paketan liburan pertama saya. Sedih sekali bukan?.
Padahal saya sudah memikirkan kondisi rumah gubuk yang akan lebih terbantu oleh
kehadiran saya. Sebenarnya ada gerangan apa tiba-tiba pengurus pesantren
memblokir jalan libur pertama saya. Mana ditanya tidak ada jawaban. Di tanya
lagi, jawabannya ada di abah, nanti tunggu saja, katanya. Tidaklah ini pertanda
buruk. Mungkinkah ini hasil akhir dari pertemuan saya dengan Gus Rahman di malam-malam
kemarin. Dewi fortun, mana janji manismu atas keberuntungan saya.
Ternyata Gus
Rahman hampir sama dengan Tadz Qiwe. sama-sama tukang ngadu. Tapi, apa
hukumannya harus searah demikian. Jujur saya sangat keberatan. Bolehkah saya
memilih hukuman yang harus saya terima. Abah, mungkinkah kali ini engkau
memberikan saya toleransi.
Hampir dibuat bosan saya menunggu Abah di ruang tamu depan kediaman
beliau. Ingin meninggalkan, tetapi itu akan meninggalkan bekas jejak
ketidaksopanan.
Sabar sebentar
lagi. Abah pasti menepati janji untuk memperbincangkan masalah yang terjadi. Betul kan,
setelah satu setengah jam lebih saya menunggu, mana mungkin seorang kyai
mengingkari janji. Mungkin ada, tapi tidak banyak dan pasti dikarenakan alasan
bermutu. Beliau keluar menemui saya dnegan menebar senyum. Duduk dihadapan
saya. Meja tempat nyamikan untuk sajian tamu sebagai pembatas kami yang duduk
di atas sofa tua. Maklum, kehidupan kyai relatif bernuansa sederhana.
Barang-barang tua sudah biasa. Saya tersanjung mendengar uraian kata-kata
beliau. Lemah lembut, bijaksana penuh kewibawaan. Hatiku pelan-pelan luluh,
tidak ada musik dangdut lagi dijantung saya. Semua tidak seekstrim bayangan
saya. Satu hal yang membuat muka saya seperti tomat adalah singgungan beliau
daripada pertemuan saya dengan Gus Rahman. Beliau mengatakan itu bukan masalah
besar. Masalah kecil, iya. Sangkaan buruk saya terkubur sudah dengan tanah
liat yang gembur. Kebaikan luar biasa beliau semakin menjadikan saya terpuruk,
salah tingkah dan menjadikan sesosok patung yang aman sangat buruk. Menurut
saya, penggagalan liburan pertama saya ini. Sungguh teramat kecil untuk hukuman
bayi semua keburukan saya, hasrat menangis termasuk meluap. Saya menangis tanpa
butiran air mata. Beliau tidak lebih meminta saya menemani putra bungsunya yang
kesepian yang tidak lain merupakan sosok Gus Rahman. Menurut penyampaian Abah,
Gus Rahman merequest khusus saya. Ada artikah. Entahlah. Percakapan kami
ditutup dengan obrolan lagi yang membahas pujaan hati saya, dambaan hati yang
akan saya cintai sampai mati.
“Ente memang anak berbakti Lian, ucap Abah tegas. Tenang saja, tidak
usah kau pikirkan lagi soal keadaan ibumu di rumah. Nanti biar saya suruh mba
ndalem dan kakang ndalem untuk membantu ibumu di rumah”
“A …. Bah sedang tidak bercanda? Tanyaku setengah takut.”
“Bayaran buatmu karna sudah mau menemani putraku di tengah liburan
pertamamu”
Seketika tubuhku merunduk dihadapan beliau menggamit tangan mulusnya
kemudian menyalami.
“Terima kasih ….. terima kasih banyak abah”
Penuturan Abah benar-benar terbukti. Tiga hari liburan berjalan,
saya menghabiskan waktu bermain dengan Gus Rahman di pesantren, tepatnya
sekitar pesantren. Tidak sembarangan permainan. Tidak menyeleweng juga dari
hobi saya. Membedakan bintang-satelit sembari berdiskusi soal masa depan.
Sesekali memperbincangkan masalah sejarah sahabat Aba Zahra (Khulafaur
Rasyidin).
Sudah tiga hari berjalan lamanya, selama itu pun saya mendapat kabar
dari pujaan hati lewat telepon rumah yang ada di kediaman Abah. Sengaja orang suruhan
Abah memasangkan telefon sementara pada ibu untuk menyediakan komunikasi selama
sisa liburan saya tidak di rumah. Ide dari Abah juga.
Terdengar paruh
swara tua pujaan hati, dambaan hati yang akan saya cintai sampai mati lewat
alat temuan Alexander Graham Bell ini. Tersirat bayang bahagian memancar
diwajahnya namun bercampur sedih. Bahagia karena dia merasa saya sudah bisa
menjalin hubungan baik dengan keluarga pak kyai, yang aslinya tidak sebegitu
indah ceritanya. Sedih karena saya tidak
bisa pulang. Jarum jam terus berdetak, tidak bosan yang kemudian berhenti.
Fajar datang mengeringkan embun. Sepoi-sepoi angin menjadi musik
selingan nyanyian burung gereja. Liburan telah berakhir. Satu dua santri runtut
berdatangan. Sekarang di kamar saya
banyak sekali makanan. Mas Gali mengantongi getuk goreng khas Sokaraja,
Banyumas. Mas Kurin bawa keripik singkong pedas buatan emaknya, masih banyak
macam makanan untuk persediaan pangan mereka. Tapi asli, semua itu tidak tahan
lama, tidak ada tujuh hari, keripik singkong dan para sahabat lainnya sudah
lenyap tertampung diperut-perut yang seringnya mengalami hawa lapar. Lagi
rahatnya bercenda dengan teman-teman kamar, mas Weno orang ndalem memanggil
saya, katanya Abah memanggil, urusan penting.
Sebuah desa yang sejuk teramat sangat, rindah pohon-pohon gemulai
berdansa. Ustadz Qiwe hanya bisa diam mendengarkan Abah mengizinkan saya 5 hari
tidak masuk madrasah sebagai pengganti liburan. Terlihat terang wajahnya
muak menatap saya. “Santai saja, tidak
usah dibikin pusing Lian, batinku menghibur,”. Ustadz Qiwe memang sepertinya
suolit untuk berbaik hati pada saya.
Tak ada lagi barang-barang bekas berceceran di samping rumah.
Sekitar rumah menyisakan rapih. Sudah hampir satu tahun kurang tiga bulan, saya
angkat kaki dari rumah gubuk ini. Tapi sekarang saya menginjaknya kembali
dengan suasana lebih enak dipandang rapih. Pasti ini kerjaan mbak-mbak suruhan
Pak kyai. Beliau berjasa sekali.
Pujaan hati saya samat sangat senang melihat saya pulang. Ade juga.
Ditambah putra pak kyai ikut serta. Pesta senyuman. Dengan demikian saya
berjanji akan menelateni memberikan contoh pelafalan huruf Arab yang benar pada
ade dan pujaan hati sesuai apa yang saya peroleh di pesantren. Malamnya, ritual
lama terjadi lagi. Berkumpul diberanda rumah gubuk. Ramai, seramai
satelit-bintang di atap awan hitam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar