SUGUHAN
BOLA MATA UNTUK SANG KESENDIRIAN
Menghitung
nilai gerak angin
Memisahkan
satu per satu rinai air langit untuk kesendirian
Terdampar
di area perkotaan negri
awan
Terpisahkan
oleh orang
Serasa
akrab dari ramai-ramai
keangkuhan
mereka
Akan
sampai di mana keangkuhan itu pulih?
Menggantikan
baju lusuh sang kesendirian dengan bahan baru
Busana
pembungkus daging mentah sang kesendirian malang tanpa berteduh dalam
kandang
Terperosok
dalam jurang, tercengang dan nyaris menjadi buangan
Sampai
disini ada keangkuhan menemu sebuah bola mata yang pulih
Dengan
hati, bola mata melabuh riwayat susutnya air mata
Menelusuri
hutan mencari celah-celah ruangan untuk penginapan dia-dia agar tidak
hilang ingatan
Tersisa
sepetak tempat baru di
hati karena
sebuah masa depan
Dengan
hati, si bola mata menjadi induk
Kemudian
melaguinya untuk lelap nyenyak di keranjang peyot
Menyapih
gengsi di
dada menelan
unjukan lidah
Ada
celah terbuka
Ada
rumput bergoyang menjawab sapaan angin
Ada
angin berbisik kepada kuping-kuping bola dan juga kuping mata
Belajar
menyimak
nasibnya di tepi troroar
Tangan-tangan
Tuhan turun mengentas pendar
panas dari terik
Dia
berkenan memolesi jempolnya agar bercahaya kembali seperti mercusuar
Yang
pecah kian menaiki anak tangga
Muram
marun pada muka dan raga terkelupas
Titian
puncak mengelus-elus bibir yang tampak
lesi
Menggendong
awak yang bermula
lumpuh
Menyuapi
seadanya pangan ke perut cekingnya
Menyuapi
juga ramuan alami tanpa
aroma terapi
Menyuapi
dengan
seluruh
cinta
Cinta
dari bumi, angin, api, air, beling-beling kaca dan awan
Binar
bola membulat menawan
Tuang
kasih secawan mengalirkan air dalam kran
Air
bening segar sebagai
persediaan kering tenggorok sepanjang
proses tanam benih
Subur
mekar tanpa
hama hama
Sentosa
tumbuh tanpa cela-cela yang pernah menelantarkan sang kesendirian di
kesepian
Memang
menyenangkan untuk dapat saling mengerti diantara belahan, cukilan,
dan potongan serta bulatan-bulatan kecil tak berbentuk mirip atom,
seperti menjadi gelembung-gelembung bahagia, sedih, senang, serta
duka merana
dalam dunia mata
Patuh
mengikuti arah angin
Sebuah
janji di mulut laut untuk meninggalkan ibu kandung ketenangan
ke
pulau sepi dari reruntuhan bambu-bambu potongan
ilegal
setiap
sore, setiap pagi sekembali dari lika liku kelana kinestetik orang
egois
Pada
akhirnya kini masih ada kehidupan
sang
kesendirian berhembus
nafas lega
digandeng bola-bola mata berhati
enggan
mengurusi tindak-tanduk setiap
sore, setiap pagi orang berhati angkuh tidak mau tau
taunya
sekedar kebusukan merupa kotor
padahal
sepenuhnya kebusukan bukan untuk ditinggal
dia
berjalan mengelilingi perkotaan bersama bola mata dengan menghirup
angin sedap malam di bawah kelap-kelip lampu
tak
ada yang menyangka jika kota pun kumuh seperti sang kesendirian
Sekali
lagi kebusukan bukan untuk ditinggal
telah
ada tangan-tangan Tuhan memupuk cinta di pintu kotakan kumuh
ketuk...
masuklah...
silahkan
menjaganya agar menjadi santun
segar menawan
Purwokerto,
18 januari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar