Kamis, 31 Januari 2013

peace of life_puisi


SUGUHAN BOLA MATA UNTUK SANG KESENDIRIAN

Menghitung nilai gerak angin
Memisahkan satu per satu rinai air langit untuk kesendirian
Terdampar di area perkotaan negri awan
Terpisahkan oleh orang
Serasa akrab dari ramai-ramai keangkuhan mereka
Akan sampai di mana keangkuhan itu pulih?
Menggantikan baju lusuh sang kesendirian dengan bahan baru
Busana pembungkus daging mentah sang kesendirian malang tanpa berteduh dalam kandang
Terperosok dalam jurang, tercengang dan nyaris menjadi buangan

Sampai disini ada keangkuhan menemu sebuah bola mata yang pulih
Dengan hati, bola mata melabuh riwayat susutnya air mata
Menelusuri hutan mencari celah-celah ruangan untuk penginapan dia-dia agar tidak hilang ingatan
Tersisa sepetak tempat baru di hati karena sebuah masa depan
Dengan hati, si bola mata menjadi induk
Kemudian melaguinya untuk lelap nyenyak di keranjang peyot
Menyapih gengsi di dada menelan unjukan lidah

Ada celah terbuka
Ada rumput bergoyang menjawab sapaan angin
Ada angin berbisik kepada kuping-kuping bola dan juga kuping mata
Belajar menyimak nasibnya di tepi troroar
Tangan-tangan Tuhan turun mengentas pendar panas dari terik
Dia berkenan memolesi jempolnya agar bercahaya kembali seperti mercusuar
Yang pecah kian menaiki anak tangga
Muram marun pada muka dan raga terkelupas
Titian puncak mengelus-elus bibir yang tampak lesi
Menggendong awak yang bermula lumpuh
Menyuapi seadanya pangan ke perut cekingnya
Menyuapi juga ramuan alami tanpa aroma terapi
Menyuapi dengan seluruh cinta
Cinta dari bumi, angin, api, air, beling-beling kaca dan awan
Binar bola membulat menawan
Tuang kasih secawan mengalirkan air dalam kran
Air bening segar sebagai persediaan kering tenggorok sepanjang proses tanam benih
Subur mekar tanpa hama hama
Sentosa tumbuh tanpa cela-cela yang pernah menelantarkan sang kesendirian di kesepian
Memang menyenangkan untuk dapat saling mengerti diantara belahan, cukilan, dan potongan serta bulatan-bulatan kecil tak berbentuk mirip atom, seperti menjadi gelembung-gelembung bahagia, sedih, senang, serta duka merana dalam dunia mata
Patuh mengikuti arah angin
Sebuah janji di mulut laut untuk meninggalkan ibu kandung ketenangan
ke pulau sepi dari reruntuhan bambu-bambu potongan ilegal
setiap sore, setiap pagi sekembali dari lika liku kelana kinestetik orang egois
Pada akhirnya kini masih ada kehidupan
sang kesendirian berhembus nafas lega digandeng bola-bola mata berhati
enggan mengurusi tindak-tanduk setiap sore, setiap pagi orang berhati angkuh tidak mau tau
taunya sekedar kebusukan merupa kotor
padahal sepenuhnya kebusukan bukan untuk ditinggal
dia berjalan mengelilingi perkotaan bersama bola mata dengan menghirup angin sedap malam di bawah kelap-kelip lampu
tak ada yang menyangka jika kota pun kumuh seperti sang kesendirian
Sekali lagi kebusukan bukan untuk ditinggal
telah ada tangan-tangan Tuhan memupuk cinta di pintu kotakan kumuh
ketuk...
masuklah...
silahkan menjaganya agar menjadi santun segar menawan

Purwokerto, 18 januari 2013










Tidak ada komentar:

Posting Komentar