Gelap
Jari lampu yang tak bernyawa
Mematikan elok malam menjadi hitam kelam
sorak lilin tergugah menggambar terang
sinar kecil api merah membiru
Secantik angin menari di bawah binar-binar bintang memekik asyik
bunyi jangkrik menyaut
membakar sendu getaran diri
sepanjang jarum jam yang terus mendetik
Jangkrik lucu tengah bernyanyi dalam tawa ceria menarikkan hatiku
cara indah bagiku
di malam tanpa pancar jari-jari lampu
begitu menyenangkan
Agustus,2008
Kamis, 31 Januari 2013
cerpen
Putih
kambojaku
Gerak adalah sebuah
makna hidup. Berkeliling menjauhi kematian dan belum merasakan liang
lahat. Mengalami musim gugur, melenyap menyentuh runtuh menjadi
tanah, dan tak akrab dari kepunahan. Disinilah kelas bergerak. Tempat
kita bebas melakukan sesuatu seenak hati. Tempat aku menangis,
tersenyum. Tempatmu bercinta dan bersandiwara.
Satu gerak, sekali
lagi aku katakana bahwa hal tersebut sangat beermakna. Berbahagialah
kamu sekalian pemilik gerak! Gerak melangkah normal, baik melangkah
satu kaki, atau barangkali ada juga dengan kaki menekuk dan pantat
menumpuk tanah atau lantai kemudian mengengsot-ngengsot, itu jauh
lebih mulia. Karena itulah ketulusan bukan niat kejahatan. Daripada
memperburuk kondisi dengan berpura-pura cacat untuk mengemis
belaskasih, sungguh memalukan. Ukirlah di dinding otak bahwa
sehat-cacat sudah tercatat. Seburuk apapun, syukurilah. Semua adalah
sebuah pemberian terbaik dariNYA, bukan pelecehan.
Aku pun akan selalu
bersabar atas hadiahNYA dalam hidupku. Kecacatan itulah bentuk
hadiahnya. Tapi masih beruntung juga karena sebelum mengenal
kepatungan tubuhku, terlebih dahulu Tuhan mengizinku mengenal gerak.
Saat
itu ayah tidak peduli akan kondisiku. Setelah aku mengidap penyakit
aneh dengan meraibkan gerakku ini, ayah mulai tidak menyukaiku. Dia
lebih memilih memilih mengurusi perkebunan teh yang luasnya
berhektar-hektar.
Sebenarnya kalau aku boleh berkomentar,aku juga
tidak menyukai pada apa yang aku alami. Sepicik itukah pikiranku?
Syukurnya tidak. Siapa lagi kalau bukan dari diri sendiri sebagai
penyemangat hidup, aku harus sadar dan membuka mata untuk tegar dan
tidak boleh jatuh. men cinti diri sendiri, itulah awal proses
menyulitkan yang sedang kucoba. Barabgkali ini meruupakan kunci untuk
dicintai. Kalian semua ingin tau dimana ibuku sekarang? Dia sudah
berada di syurga bersama adik cantik kecilku sebelum aku mengalami
kondisi cacat. Umurku wakti itu 4 tahun lebih 3 bulan. Perisittiwa
tersebut terjadi karena kandunga ibu lemah sehingga mengakibatkan
keguguran dan pendarahan hebat yang menyebabkan ibu amat sangat
kekurangan darah. Potang-panting ayah mencari pendonor yang darahnya
cocok dengan ibu. Ayah tidak menemukan apapun kecuali sekantong darah
ayah yang hanya menjadi tetesan-tetesan tanpa harapan. Kemudian
menjadi tetesan-tetesan tangisan dan tetesan-tetesan kehilangan.
Kian
detik menggelitik bumi, kuranglebih setahun sudah ibu tiada. Selama
itupun hubunganku dan ayah terjalin baik. Sampai ayah menemukan
pengganti ibu, ayah pun masih baik. Hanya saja, sebulan, dua bulan,
tiga bulan setelah pernikahan ayah dengan ibu tiriku yang kupanggil
mamah, aku mulai kehilangan gerakku dikarenakan jatuh dari tangga
rumah. Disinilah awal perubahan ayah yang sangat akuu benci. Aku
sangat merindukan sossok ayah yang dulu bukan sekarang. Ayah sekedar
menyukai mamah dan kak Lea saja. Untungnya mereka berdua tidak
seperti saudara-saudara tiri seperti ditelevisi yang terkenal galak
juga kejam. Mereka baik. Malah terkadang mamah menangis disampingku
melihat perlakuan ayah padaku. Tangannya mengelus-elus tangan-kakiku
lembut kemudian berucap “Sudahlah sayang…. Apa yang dikatakan
Ayahh tadi jamgamm dimasukkan kedalam hati. Ayah cuma sedang
disibukkan dengan urusan perkebunan. Jadi, Ayah lagi banyak pikiran
dan membuatnya jadi sering marah-marah mirip kaya Angry
Bird
itu loh. Hehe
Ah
mamah bisa aja. Aku tersenyum
Maaaah…
iya saying
Maafin
seo ya mah, karna seo sering banget nyusahiin Mamah dan Kak Lea.
Tubuhnya pelan mendekatiku. Memelukku. “Jangan bilang begitu lagi
sayang”. Bisiknya persis didaun telingaku. Berdesir. Menentramkan.
Di
suatu sore mamah bilang akan pergi menengok temannya yang sakit di
RS. Mamah tidak sendiri, Mamah diantar Kak Lea mengendaai motor.
Tadinya mau pakai mobil, tapi mamah ngeyel pengen naik motor, katanya
lebih seger. Setelah Mamah cerita begitu, aku jadi ppengen jalan
sore-sore pakai motor, kan pemandangan sore itu sangat indah. Aku
suka. Hanya angan belaka, pikirku.
Sudah
lama begini, kapan kira-kira Mamah mau pulang. Aduh, aku pengen
buang air kecil lagi. Bagaimana ini? Akuu ngomong sendiri seperti
orang gila.
Ya
sudahlah, akan kucoba pergi ke kamar mandi sendiri aja, moga aja
bisa. Tersentum penuh semangat. Aku menggeser pelan kakiku kesamping.
Sebenarnya dengan adanya aku seperti ini, posisi paling aku suka ya
di atas kasur. Alasan kuatnya karena tidak perlu merepotkan dan
menyusahkan orang lain. Cukup berbaring manis aja. Namun ritual buang
air selalu menggangu semua. Hal yang sangat merepotkan, sampai aku
pun dibuat kalang kabut oleh diriku sendiri.
Hore!!
Akhirnya kakiku bisa bergerak sedikit. Lumayan. Batinku senang.
Buatku
untuk mencapai kesuksesan dalam gerak itu sulit. Contohnya kemarin,
belum menggeser tubuhku sedikit, eh malah jatuh duluan. Untungnya
tanpa menangis. Diam saja terduduk diatas lantai sampai ada yang
menemukan. Lain halnya dengan sekarang, aku gagal lagi untuk mencapai
kemandirianku ke kamar mandi. Sedikit bergerak tadi sudah pasti iya.
Tapi lagi-lagi kakiku tak kuasa menopang bobot tubuhku saat berada di
pinggiran keranjang yang merupakan alternative turun menuju lantai.
Detik itu juga aku runtuh terkelungkup. Berbeda dengan yang
sudah-sudah, kali ini ada tangisan. Karena sakit terasa mengecap.
Bagaimana tidak terasa lebih menyakitkan dari yang kemarin-kemarin.
Sebuah gelas entah kenapa berada tepat di TKP jatuhku. Gelas tipi
situ remuk tertindas tubuhku. Walhasil beling-beling tajam tersebut
ada yang merobek kulitku dan mengenai paha kanan kiri. Seperti ada
cairan yang membasahi pahaku, kucoba mengelapnya dengan tangan.
Aku
yang dari kecil sangat ketakutan saat meliha cairan merah kental,
menjerit kesetanan. Hampir seperempat jam aku menahan sakit.
Teriakkanku tidak ada respon.
Ayaaaah…..!!
Mamah…!! Kaka!!
Seo
jatuh… to…looongin seo. Hikss….hiksss…hikkss
Kreek.
Ada yang membuka pintu. Tapi dia…
Diam
kau!! Bikin repot saja hidupmu! Diam, tak usah menangis lagi!
Yaaah,
to..longin seo, tnganku menggamit tangan hitam legam Ayah. Tangan
yang masih kokoh tanpa kisut sedikitpun. Aku ingin sekali ini aja dia
iba melihatku. Tapi apa, bentakkan ya tetap menjadi bentakan. Itulah
cemilanku.
Hawa-hawa
apotek tercium tidah asing. Kubuka mata kecilku pelan-pelan. Setelah
Ayah membentakku tadi, entah kejadian apa telah menimpaku. Aku
merasakan gelap seketika dan sekarang kutemu titik terang kembali di
depan mata. Dimanakah aku sekarang. Sekujur tubuhku rasanya remuk. Di
tenga persemayaman para malaikatkah aku sekarang? Serba putih.
Menegangkan. Atau rumah sakit. Apa sekarang aku berada di tempat yang
sangat aku suka. Aneh? Mingkin. Jelaslah aku menyukai tempat ini
karena Ayah akn selalu berubah baik ketika aku terbaring lesi di
keranjamg besi rumah sakit. Jujur, aku rela lama-lama disini demi
kebaikan Ayah padaku. Beda dirumah, beda pula di rumah sakit.
Kekasaran Ayah seketika melentur mendengar aku dan rumah sakit
bersatu. Meski masih sedikit menyisakan kegengsian untuk baik padaku.
Tapi perubahan membaik dapipada di rumah.
Saying….
Seo sudah bangun?
Aku
sekedar menganggukan kepala dan tersenyum sebisaku dihadapan Mamah.
M…maaah?
Iya
saying, ada apa?
Kambojja
putih dari ayah kok belum ada, Ayah di mana Mah?
Yang
kutanya terdiam seribu tutur ucap. Guratan menua dimukanya terlihat
semakin murung.
M…..mah
Iyaa
sayang, ada apa? Tadi seo tanya Ayah? Tenang ya sayang, mungkin Ayah
baru bisa kesini besok, soalnya Ayah masih sibuk. Terang mamah
panjang lebar dengan kegugupan.
Ta…tapi
Ayah tau kan mah kalo Seo di sini, di RS?
Iya
sayang, mamah udah kasih tau Ayah.
Ooooh,
syukurlah. Ya sudah mah, kayaknya Seo pengen bobo sebentar. Nanti
kalo Ayah sudah datang bangunin Seo ya mah.
Mungkin
kali ini pepatah menang. “Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang
lain”. Sudah tiga kali aku terbangun sendiri dari tidurku. Tak ada
suara dan tubuh Ayah disampingku. Mamah tak berkomentar. Seperti ada
yang aneh.
Sayang,
kenapa melamun, gak baik loh. Senyum terpaksa. Mending kita
jalan-jalan aja yuh, nanti mamah ambilkan kursi roda dulu.
e..nggak
usah mah, Seo pengen di kamar aja. Seo batahan di kamar apalagi kalo
ada Ayah.
Seo…?
Panggil mamah lembut.
Iya
mah. Apa Seo gak benci Ayah, apa Seo tetep sayang Ayah. Lagi-lagi aku
hanya bisa menganggukan kepala dan tersenyum untuk menjawab
pertanyaan Mamah. Aku tau mamah mungkin pastii masih ragu dengan
jawabanku. Aku bisa mereka-reka pikiran mamah. Mana mungkin kekasaran
Ayah selama di rumah masih mendapatkan sayang dariku. Tapi sungguh,
sayangku ini nyata bukan hampa.
Anak
yang baik, tunggu sebentar ya nak, mamah mau mengambilkan titipan
Ayah Seo. Ucap mamah sambil mengelus lembut rambut tipisku yang sudah
sering rontok kena pengaruh obat yang aku konsumsi, menuju suatu
tempat untuk mengambil titipan Ayah.
Ini
nak, langsung dibuka saja.
Sebuah
surat. Ayah memberiku surat.
Hai
Seo
Mungkin
saat Seo membaca ini, Ayah sudah pergi ke tempat yang amat sangat
jauh dari Seo. Tapi Seo tidak boleh sedih. Seo masih ingat Ayah
pernah bilang apa waktu kita pergi ke pantai bareng ibu dulu. “kita
akan selalu menjadi keluarga paling sejahtera sedunia dan akan selalu
bahagia meski kita tidak berdekat raga”. Maka itu Seo tidak boleh
sedih.
Dan
maaf Seo. Kemariin-kemarin Ayah sering kasar sama Seo. Sebenarnya
Ayah ingin sering-sering dekat dengan Seo, tapi Ayah tidak tega
melihat Seo. Jadi………. Seo tau sendiri apa yang sudah Ayah
lakukan ke Seo itu sangat menyakitkan.
Sekali
lagi maafkan Ayah.
Salam
rindu Ayah untuk Seo tersayang.
Dari
: Ayah terjahat sedunia
Tak
terasa mata-mataku memanas, bulir air turut memanas dan tak mampu
kutahan agar gak keluar. Menetes…menetes….menetes. tampias
mutiara menggelinding dipipi tirusku. Mamah ikut menagis. “ ini
sayang ada satu lagi titipan Ayah. Sela mamah membuatku menolehkan
kepala. Mamah mengulurkan sebuket segar kamboja putih dalam
genggamnya. Bukan Ayah namanya kalon lupa dengan kesukaanku. tiap
kali aku dan rumah sakit bersatu, putih kambojalah hadiah terindah
darinya. Inilah alasan kemarin-kemarin aku bertanya pada mamah kok
kamboja putih yang biasa ayah antar belum ada. oh ternyata aku
mendapatkannya di hari ini. Hari di mana aku hampir dibolehkan pulang
oleh dokter. Syukurlah kondosiku membaik, kecuali suasana hatiku
cukup memburuk.
Penantianku
menunggu sosok kengenanku sia-sia. Yang menjemputku sore ini adalah
Kak Lea. Ia masih setia di temani kekasih pujaan pastinya. Mereka
ibarat perangko. Kemana-mana menempel terus berdua. Tidak salah pilih
juga, karena dia, kak zepo juga sayang padaku. Pakai tanda kutip
“sayang sebagai adik loh” ^_^.
Melajulah
mobil yang aku tumpangi. Good bye hospital. Semoga ini merupakan
pertemuan-perpisahan terakhir aku berkunjung di tempatmu ini. Aku
sudah bosan.
Eh
kak, kok ini bukan arah jalan pulang. Harusnya kan belok kiri. Kenapa
malah lurus. Sela aku pada Kak Zepo yang sedang serius ngdrive.
Kata
kakak kamu sebelum ke rumah kita akan mampir ke pemak….
Ssssstttt
po, ember banget sih. Ucap kak Lea kesal sama kak Zepo yang belum
kelar menjawab pertanyaanku.
Sebenernya
ada apa sih mah? Kak? Seruku kesal.
Daun-daun
kambooa berguguran. Pilu. Sendu beradu memadu angin menerbangkan
debu.
Pusara
itu masih kemerah-merahan tanah yang baru bertuan. Sedikit pun belum
berubah menjadi kecoklatan. Penjelasan mamah yang panjang sudah
membuat mudeng.
Ayah,
telingaku belum tuli yah. Matku juga belum buta. Kenapa Ayah begitu
ceroboh sekali saat menggantarkanku ke RS. Kenapa Ayah bisa tertabrak
mobil. Seharusnya Ayah cukup mengangkatku ke keranjang tidur saja
dari lantai berlumur darah dan memanggil dokter. Tapi Ayah ngotot
mengangkatku ke RS, pakai jalan kaki pula. Berlari puluhan meter.
Mamah tak kuasa mencegah keambisiusan Ayah yang begitu
mengkhawatirkanku. Jadi, pernyataan Ayah disurat salah besar, Ayah
bukan Ayah terjahat melainkan ayah adalah ayah terhebat sedunia.
Mencoba
tegar sekuat hati. Tapi yah, kenapa jadi begini. Kenapa ketika aku
mulai bisa sedikit bergerak dengan bantuan kursi roda, mati gerak
justru menimpamu. Sebulan lewat sudah aku menantimu, sekarang
pupuslah sudah atas pergimu meninggalkan aku, mamah, dan Kak Lea.
15
Januari 2001, Bapak Suhendra bin Hardijaksa.
Sore
ini di pusara Ayah, akan kujalani tiap sore untuk mengelus nisan ini.
Merawatnya juga. Itu pasti yah.
Pepoohonan
kamboja yang gemuk menggugurkan bunga-bunga lapuk dan menyemikan yang
baru berwarna putih nan suci. Seputih hati Ayah yang akan terus
menggebu dihatiku.
31
juli 2012_08.37
peace of life_puisi
SUGUHAN
BOLA MATA UNTUK SANG KESENDIRIAN
Menghitung
nilai gerak angin
Memisahkan
satu per satu rinai air langit untuk kesendirian
Terdampar
di area perkotaan negri
awan
Terpisahkan
oleh orang
Serasa
akrab dari ramai-ramai
keangkuhan
mereka
Akan
sampai di mana keangkuhan itu pulih?
Menggantikan
baju lusuh sang kesendirian dengan bahan baru
Busana
pembungkus daging mentah sang kesendirian malang tanpa berteduh dalam
kandang
Terperosok
dalam jurang, tercengang dan nyaris menjadi buangan
Sampai
disini ada keangkuhan menemu sebuah bola mata yang pulih
Dengan
hati, bola mata melabuh riwayat susutnya air mata
Menelusuri
hutan mencari celah-celah ruangan untuk penginapan dia-dia agar tidak
hilang ingatan
Tersisa
sepetak tempat baru di
hati karena
sebuah masa depan
Dengan
hati, si bola mata menjadi induk
Kemudian
melaguinya untuk lelap nyenyak di keranjang peyot
Menyapih
gengsi di
dada menelan
unjukan lidah
Ada
celah terbuka
Ada
rumput bergoyang menjawab sapaan angin
Ada
angin berbisik kepada kuping-kuping bola dan juga kuping mata
Belajar
menyimak
nasibnya di tepi troroar
Tangan-tangan
Tuhan turun mengentas pendar
panas dari terik
Dia
berkenan memolesi jempolnya agar bercahaya kembali seperti mercusuar
Yang
pecah kian menaiki anak tangga
Muram
marun pada muka dan raga terkelupas
Titian
puncak mengelus-elus bibir yang tampak
lesi
Menggendong
awak yang bermula
lumpuh
Menyuapi
seadanya pangan ke perut cekingnya
Menyuapi
juga ramuan alami tanpa
aroma terapi
Menyuapi
dengan
seluruh
cinta
Cinta
dari bumi, angin, api, air, beling-beling kaca dan awan
Binar
bola membulat menawan
Tuang
kasih secawan mengalirkan air dalam kran
Air
bening segar sebagai
persediaan kering tenggorok sepanjang
proses tanam benih
Subur
mekar tanpa
hama hama
Sentosa
tumbuh tanpa cela-cela yang pernah menelantarkan sang kesendirian di
kesepian
Memang
menyenangkan untuk dapat saling mengerti diantara belahan, cukilan,
dan potongan serta bulatan-bulatan kecil tak berbentuk mirip atom,
seperti menjadi gelembung-gelembung bahagia, sedih, senang, serta
duka merana
dalam dunia mata
Patuh
mengikuti arah angin
Sebuah
janji di mulut laut untuk meninggalkan ibu kandung ketenangan
ke
pulau sepi dari reruntuhan bambu-bambu potongan
ilegal
setiap
sore, setiap pagi sekembali dari lika liku kelana kinestetik orang
egois
Pada
akhirnya kini masih ada kehidupan
sang
kesendirian berhembus
nafas lega
digandeng bola-bola mata berhati
enggan
mengurusi tindak-tanduk setiap
sore, setiap pagi orang berhati angkuh tidak mau tau
taunya
sekedar kebusukan merupa kotor
padahal
sepenuhnya kebusukan bukan untuk ditinggal
dia
berjalan mengelilingi perkotaan bersama bola mata dengan menghirup
angin sedap malam di bawah kelap-kelip lampu
tak
ada yang menyangka jika kota pun kumuh seperti sang kesendirian
Sekali
lagi kebusukan bukan untuk ditinggal
telah
ada tangan-tangan Tuhan memupuk cinta di pintu kotakan kumuh
ketuk...
masuklah...
silahkan
menjaganya agar menjadi santun
segar menawan
Purwokerto,
18 januari 2013
Langganan:
Komentar (Atom)