Rabu, 13 Februari 2013


Terdiam aku dalam batu bisu
Memeluk pendar bayagmu yang semu
Mendaur masa menyisakan pilu
Tapi sedikit kurasa
Bahwa pilu pun merdu
Hingga aku terbuai, ditimang nada sendu
Terlelap,
Dalam mimpi yang tak kunjung beranjak pagi

120213-22.10
By; LaLa PraTama & Fina Ghozaly

4 musim untuk Leksa
Spesial untuk  sahabatku tersayang althaf nissa

Teman-temanku mengira dan menyetempel aku sebagai robot milik dia. Robot penurut nomor satu, tempat suruhan untuk mengerjakan sesuatu sesuai perintah dia, namun berinti bukan termasuk kriminal sebab merugikan satu pihak. Diantara aku dan dia saling menerapkan simbiosis mutualisme. Kecewa atas penuturan semua teman? Pastinya terasa olehku. Tapi sebagaimana besar omongan mereka , aku akan meminta pada Tuhan untuk menebalkan kupingku agar  tidak mendengar omongan tidak berbobot itu, toh suara mereka sepertinya tidak terbukti dan tidak akan pernah terbukti. Hubungan terjalin aku memberi-dia menerima, dia memberi-aku menerima, sederhana. Sederhana yang entah dari kapan ada dalan hidupku, aku lupa.
Tali saudara sudah kuanggap sedemikian rupa antara aku dan dia. Kemana pun aku dan dia pergi selalu bersama kecuali masuk toilet dan kamar tidur (‘cause this is the screet work beside us). Banyak  hal ajaib dalam dia, dia serasa seorang kakak yang melindungiku, ibu yang menasehatiku, guru yang mengajariku. Senang merekah untuk mengenal dia.
Tahun keenam pada pertemanan aku dan dia. Gembira bersama dia kian terlihat aneh. Pohon subur itu kiranya sudah nyaman menghirup udara yang bertemankan pohon-pohon lain. Pohon-pohon lain tersebut tentulah bukan aku. Sedangkan aku sudah seperti menjadi benalu bagi dia. Mengapa tingkah dia demikian aku juga kurang faham. Kau tau apakah aku suka dengan keadaan ini. Sungguh tidak. Warna-warna tawa aku dan dia yang telah lalu seketika pudar. Aku seperti menjadi orang lain. Orang lain yang memang tidak mengenal satu sama lain. Ibu, aku ingin menceritakan semua ini padamu. Tentang kalau aku dan dia sedang tidak baik lagi. Aku tau, bila kau tau pasti akan sangat tidak suka, aku tau persis itu. Aku masih ingat kejadian taun lalu kala aku bercerita padamu tentang aku dan dia sewaktu kami marahan selama kurang lebih 3 atau 4 hari dengan alasan aku tidak mau menemani dia membeli kado valentine untuk kekasih dia karena aku sibuk mengerjakan pekerjaan rumah. Aku yang merasa tidak salah mengambil keputusan tidak akan mengawali minta maaf sebelum dia mendahului. Namun waktu  berkata lain.  Kau tidak menyetujui pendapatku. Kau risi dengan kejauhan aku dan dia. Pada saat itu kau langsung menyuruhku menemu dia meminta maaf. Memang mudah hanya aku bosan melakukan kegiatan keakraban yang terlahir dengan judul “mengawali mengalah demi cipta kedamaian”. Apalah daya, ibuku ya harus ibuku. Sangat dilarang kalo berani mematahkan kemauannya. Bisa-bisa rumah ini akan mengalami gempa berskala 7, 9 richter. Dahsyat.
Dan maafkan aku ibu. Kejadian tersebut terulang kembali dalam hidupku untuk kesekian kalinya, tepatnya tiga kali. Ku harap bahwa ini masih bisa kuatasinya tanpa tercim dulu bangkainya oleh kau ibu. Aku janji ibu, serumit apapun hidupku dengan tidak bersama dia, aku harus santun menjalaninya dalam sepi. Dalam malam rinai air mata merindukan gelak antara aku dan dia. Cukup semua itu terbayangkan mata sebagai obat. Aku rindu padamu kawan, sungguh.
Ceria mentari pagi menyalami hari dimana aku-dia meninggalkan gedung sekolahan Menengah Atas swasta. Bukanlah suatu ketidakcocokan andai mereka terang sedangkan aku dan dia bercuaca mendung. Padahal inilah pakar dia soal ajaran nabi bahwa diantara tiap kaumnya dilarang mendiamkan mitranya ketika telah ada perselisihan. Kenapa dia kurang mempraktekannya.
Halaman sekolah tertata begitu rapinya. Terisi kursi-kursi untuk para tamu undangan dan wali murid. Di dekat gerbang pintu masuk telah berjejer karangan bunga bersterofom kotak besar tertuliskan selamat dan sukses untuk beberapa temanku yang beruntung menerimanya. Bahagia sekali mereka. Satu pun dari puluhan karangan bunga tersebut, tidak ada daftar namaku. Ibuku, mana mungkin dia membeli tanpa pemesanan dariku. Ayah pun demikian. Kakak, lagi kurang mood mengurusi hari spesialku. Alur otakku menalar bahwa putus cinta adalah hal bodoh apabila setelah mengalaminya kemudian berdampak frustasi alias memutilasi jalan hidup. Kakakku merupakan salah satu korban dari ratusan orang bodoh itu. Korban dari rangkaian kebahagiaan yang terputus.
Acara berjalan memuaskan. Aku mendapati peringakat 5 dan dia 1. Namun sampai usai acara, tampaknya tidak ada tanda kemunculan batang hidung dia. Saat pemanggilan diatas panggung pun dia diwakilkan teman baru dia yang juga aku kenal. Soal teman baru dia, pernah kuceritakan tempo hari pada kalian bukan? Menambah semakin rumit saja masalah ini.
Selang sehari setelah acara pelepasan status wajib sekolah 12 tahun, aku meminta izin ibu pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan camping sekolah yang akan diadakan tiga hari lagi. Sebelum pergi, aku mencoba kerumah dia menanyai barangkali punya waktu luang menemaniku belanja. Semoga kali ini dewi vortune sedang mengibakkan sayapnya agar bisa kutumpangi terbang menuju negri the real happy.
Rumahnya lumayan sepi tapi masih ada kehidupan didalamnya, karena halaman rumah dia masih tampak bersih, rapih. Pasti Tante Meti lah pelakunya. Beliaulah satu-satunya penghuni rumah yang menggandrungi kebersihan dan kerapihan selain dia. Lucu juga mengingat soal itu. Ah sudahlah, tujuanku kesini bukan untuk bernostalgia. Tapi siang ini aku nekad mencoba mengajak dia pergi. Mungkinkah dia mau?
Pak Naya memberhentikkan mobil ditempat parkiran mobil pada serambi supermarket. Beliau yang selama ini setia menemaniku saat orang-orangku menghilang. Kakak tidak ada, dia tidak ada, namun hasilnya tetap tidak jauh beda pergi dengan sopir pribadi ayah. Seru juga. Kayak ayah ke-2 bagiku saja. Kunjunganku kerumahnya tadi tidak menggandeng kabar baik. Kata Tante Meti, dia sedang keluar bersama teman dia karna janji. Jadi setiba diruang besar yang mungkin amat sangat cukup untuk bermain petak umpet seperti waktuku kecil, aku dan Pak Naya berkeliling entah kearah manapun tidak jelas karna kami sama-sama buta arah. Haha. Biasanya dia penunjuk arahku dan tugasku mengekor dan sekarang dia tidak ada. Meski sekarang tanpanya, akhirnya kami menemu kemudian membeli satu per satu barang yang dicari. Sampai sesuatu yang tidak dicari akhirnya ditemu ditempat ini. Kalian ingin tau apakah gerangan? Sangkaan seperti ini tidak pernah terpikirkan olehku.
 “Kakak!!” perespon suaraku menengok sekaligus tidak kuat menahan senyum anehnya. Makna senyum tidak enak ditambah malu merona. Aneh sekali orang ini bisa malu padaku, Pikirku.
 “hemt, kakak gimana sih, kata ibu kakak lagi sibuk di kampus, kenapa malah enak-enakan disini, gak ngajak aku lagi, menyebalkan!”. Bujang kawakan itu setengah enggan menjawab tanyaku, lagaknya hanya tersenyum-senyum salah.
 “Leksi ...!” Belum selesai menanggapi bujang culun dihadapanku, ada seseorang memanggilku.  Tengokanku seketika membuyarkan kejadian apapun yang barusan aku alami. Sekarang aku fokus pada seseorang di hadapanku. Tubuh berisi, dengan tinggi 157 cm di depanku terpaku juga menatapku. Dia, second ini dia ada di hadapanku. Bukan bayangan lagi. Kami berdua diam dalam keramaian sekitar.
Kali ini belum ada yang dapat menandingi rasa bahagiaku. Gelembung-gelembung bahagia itu menaburiku lewat kiriman Tuhan Sang Maha Cinta yaitu kembalinya dia menyentuh hariku.
Kakak merangkul tubuhku dan menggandeng tanggan dia. Kami menuju tempat duduk dimana kakak tadi ada. Sebuah kafe kecil dalam ruangan supermarket. Pak Naya tidak ketinggalan kami ajak bergabung. Hanya saja ia menolak lembut dengan alasan mau menunggu di mobil saja sebab ngantuk dan capek. Kakak menerima alasan yang pantas untuk mempersilahkan Pak Naya meninggalkan kami.
Dengan menghabiskan waktu 99 menit, cukup sudah ceritaku, cerita dia, cerita kakak terselesaikan. Kami pulang. Bejalan menyusuri ruangan-ruangan besar berAC. Bagi yang berkaos lengan pendek serta celana tigaperempat sepertiku dijamin akan merasakan ketiadaan panas. Untung saja kets plus kaos kaki pendek yang kupakai sedikit mampu menjadi penghangat kaki.
Kakak memimpin barisan didepan. Aku dan dia bergandengan tangan membuntuti.
 “eh Mon, dasar aneh bin culun kamu yah, mau-maunya jadi cewek orang gak jelas kaya dia” kerdip mataku menunjuk kearah kakak mencandainya.
 “sembarangan kamu de, gini-gini kakakmu ini baik hati, suka menolong, setia dan tidak sombong tau” sentum bangganya merekah sembari mengangkat kerah kemeja kotak-kotak biru putihnya.
“hahahahahaha” kami sekata menertawai banyolannya.
14 februari, dia Monika citrasetiady bersama aku Leksa Triharti Ningsih, merajut kembali sayap yang nyaris patah. Dua pesanku padanya; 1. “jangan menjauhiku lagi bila dengan alasan kamu punya hubungan spesial dengan orang dekatku. Aku tidak akan tidak suka”. 2. “jangan menjauhiku lagi, karena aku akan sangat merindu boneka pandaku yang bisa kucubit saat aku bahagia dan lara”.
 “iya adeku” tanpa aba-aba otomatis kami tertawa menyimak sebutan baru dia untukku. Hingga perut kami melilit.
 “oiya Leksa, aku punya sesuatu untukmu...
“Mmm nih ambil” semangat dia mengulurkan sebuah kotak berbungkus kertas kado dengan ukuran kotak 20x15 cm. Pelan-pelan aku buka dan tumpukan tetralogi novel karya Illana Tan menghipnotis mataku. 4 judul komplit: Autumn in Paris, Winter in Tokyo, Summer in Seoul, Spring in London.
“Monikaaaaaa, gokil lbanget lo!!” seruku bahagia tidak tertahankan.
“I like it so much!!” thaks a lot kakakku. Hahahahaha
Di taman rumahku, dalam gulita malam berbintang ini kami tersenyum menatap masa depan yang akan kelap-kelip seperti mereka. Aku dan dia mengalami the real happy.


Purwokerto, 12 Februari 2013 23.46
                                                                                       By:
                                                                                       aku yang amat merindumu

Kamis, 31 Januari 2013

Gelap

Jari lampu yang tak bernyawa
Mematikan elok malam menjadi hitam kelam
sorak lilin tergugah menggambar terang
sinar kecil api merah membiru

Secantik angin menari di bawah binar-binar bintang memekik asyik
bunyi jangkrik menyaut
membakar sendu getaran diri
sepanjang jarum jam yang terus mendetik

Jangkrik lucu tengah bernyanyi dalam tawa ceria menarikkan hatiku
cara indah bagiku
di malam tanpa pancar jari-jari lampu
begitu menyenangkan

Agustus,2008

cerpen


Putih kambojaku

Gerak adalah sebuah makna hidup. Berkeliling menjauhi kematian dan belum merasakan liang lahat. Mengalami musim gugur, melenyap menyentuh runtuh menjadi tanah, dan tak akrab dari kepunahan. Disinilah kelas bergerak. Tempat kita bebas melakukan sesuatu seenak hati. Tempat aku menangis, tersenyum. Tempatmu bercinta dan bersandiwara.
Satu gerak, sekali lagi aku katakana bahwa hal tersebut sangat beermakna. Berbahagialah kamu sekalian pemilik gerak! Gerak melangkah normal, baik melangkah satu kaki, atau barangkali ada juga dengan kaki menekuk dan pantat menumpuk tanah atau lantai kemudian mengengsot-ngengsot, itu jauh lebih mulia. Karena itulah ketulusan bukan niat kejahatan. Daripada memperburuk kondisi dengan berpura-pura cacat untuk mengemis belaskasih, sungguh memalukan. Ukirlah di dinding otak bahwa sehat-cacat sudah tercatat. Seburuk apapun, syukurilah. Semua adalah sebuah pemberian terbaik dariNYA, bukan pelecehan.
Aku pun akan selalu bersabar atas hadiahNYA dalam hidupku. Kecacatan itulah bentuk hadiahnya. Tapi masih beruntung juga karena sebelum mengenal kepatungan tubuhku, terlebih dahulu Tuhan mengizinku mengenal gerak.
Saat itu ayah tidak peduli akan kondisiku. Setelah aku mengidap penyakit aneh dengan meraibkan gerakku ini, ayah mulai tidak menyukaiku. Dia lebih memilih memilih mengurusi perkebunan teh yang luasnya berhektar-hektar.
Sebenarnya kalau aku boleh berkomentar,aku juga tidak menyukai pada apa yang aku alami. Sepicik itukah pikiranku? Syukurnya tidak. Siapa lagi kalau bukan dari diri sendiri sebagai penyemangat hidup, aku harus sadar dan membuka mata untuk tegar dan tidak boleh jatuh. men cinti diri sendiri, itulah awal proses menyulitkan yang sedang kucoba. Barabgkali ini meruupakan kunci untuk dicintai. Kalian semua ingin tau dimana ibuku sekarang? Dia sudah berada di syurga bersama adik cantik kecilku sebelum aku mengalami kondisi cacat. Umurku wakti itu 4 tahun lebih 3 bulan. Perisittiwa tersebut terjadi karena kandunga ibu lemah sehingga mengakibatkan keguguran dan pendarahan hebat yang menyebabkan ibu amat sangat kekurangan darah. Potang-panting ayah mencari pendonor yang darahnya cocok dengan ibu. Ayah tidak menemukan apapun kecuali sekantong darah ayah yang hanya menjadi tetesan-tetesan tanpa harapan. Kemudian menjadi tetesan-tetesan tangisan dan tetesan-tetesan kehilangan.

Kian detik menggelitik bumi, kuranglebih setahun sudah ibu tiada. Selama itupun hubunganku dan ayah terjalin baik. Sampai ayah menemukan pengganti ibu, ayah pun masih baik. Hanya saja, sebulan, dua bulan, tiga bulan setelah pernikahan ayah dengan ibu tiriku yang kupanggil mamah, aku mulai kehilangan gerakku dikarenakan jatuh dari tangga rumah. Disinilah awal perubahan ayah yang sangat akuu benci. Aku sangat merindukan sossok ayah yang dulu bukan sekarang. Ayah sekedar menyukai mamah dan kak Lea saja. Untungnya mereka berdua tidak seperti saudara-saudara tiri seperti ditelevisi yang terkenal galak juga kejam. Mereka baik. Malah terkadang mamah menangis disampingku melihat perlakuan ayah padaku. Tangannya mengelus-elus tangan-kakiku lembut kemudian berucap “Sudahlah sayang…. Apa yang dikatakan Ayahh tadi jamgamm dimasukkan kedalam hati. Ayah cuma sedang disibukkan dengan urusan perkebunan. Jadi, Ayah lagi banyak pikiran dan membuatnya jadi sering marah-marah mirip kaya Angry Bird itu loh. Hehe
Ah mamah bisa aja. Aku tersenyum
Maaaah… iya saying
Maafin seo ya mah, karna seo sering banget nyusahiin Mamah dan Kak Lea. Tubuhnya pelan mendekatiku. Memelukku. “Jangan bilang begitu lagi sayang”. Bisiknya persis didaun telingaku. Berdesir. Menentramkan.
Di suatu sore mamah bilang akan pergi menengok temannya yang sakit di RS. Mamah tidak sendiri, Mamah diantar Kak Lea mengendaai motor. Tadinya mau pakai mobil, tapi mamah ngeyel pengen naik motor, katanya lebih seger. Setelah Mamah cerita begitu, aku jadi ppengen jalan sore-sore pakai motor, kan pemandangan sore itu sangat indah. Aku suka. Hanya angan belaka, pikirku.
Sudah lama begini, kapan kira-kira Mamah mau pulang. Aduh, aku pengen buang air kecil lagi. Bagaimana ini? Akuu ngomong sendiri seperti orang gila.
Ya sudahlah, akan kucoba pergi ke kamar mandi sendiri aja, moga aja bisa. Tersentum penuh semangat. Aku menggeser pelan kakiku kesamping. Sebenarnya dengan adanya aku seperti ini, posisi paling aku suka ya di atas kasur. Alasan kuatnya karena tidak perlu merepotkan dan menyusahkan orang lain. Cukup berbaring manis aja. Namun ritual buang air selalu menggangu semua. Hal yang sangat merepotkan, sampai aku pun dibuat kalang kabut oleh diriku sendiri.
Hore!! Akhirnya kakiku bisa bergerak sedikit. Lumayan. Batinku senang.
Buatku untuk mencapai kesuksesan dalam gerak itu sulit. Contohnya kemarin, belum menggeser tubuhku sedikit, eh malah jatuh duluan. Untungnya tanpa menangis. Diam saja terduduk diatas lantai sampai ada yang menemukan. Lain halnya dengan sekarang, aku gagal lagi untuk mencapai kemandirianku ke kamar mandi. Sedikit bergerak tadi sudah pasti iya. Tapi lagi-lagi kakiku tak kuasa menopang bobot tubuhku saat berada di pinggiran keranjang yang merupakan alternative turun menuju lantai. Detik itu juga aku runtuh terkelungkup. Berbeda dengan yang sudah-sudah, kali ini ada tangisan. Karena sakit terasa mengecap. Bagaimana tidak terasa lebih menyakitkan dari yang kemarin-kemarin. Sebuah gelas entah kenapa berada tepat di TKP jatuhku. Gelas tipi situ remuk tertindas tubuhku. Walhasil beling-beling tajam tersebut ada yang merobek kulitku dan mengenai paha kanan kiri. Seperti ada cairan yang membasahi pahaku, kucoba mengelapnya dengan tangan.
Aku yang dari kecil sangat ketakutan saat meliha cairan merah kental, menjerit kesetanan. Hampir seperempat jam aku menahan sakit. Teriakkanku tidak ada respon.
Ayaaaah…..!! Mamah…!! Kaka!!
Seo jatuh… to…looongin seo. Hikss….hiksss…hikkss
Kreek. Ada yang membuka pintu. Tapi dia…
Diam kau!! Bikin repot saja hidupmu! Diam, tak usah menangis lagi!
Yaaah, to..longin seo, tnganku menggamit tangan hitam legam Ayah. Tangan yang masih kokoh tanpa kisut sedikitpun. Aku ingin sekali ini aja dia iba melihatku. Tapi apa, bentakkan ya tetap menjadi bentakan. Itulah cemilanku.
Hawa-hawa apotek tercium tidah asing. Kubuka mata kecilku pelan-pelan. Setelah Ayah membentakku tadi, entah kejadian apa telah menimpaku. Aku merasakan gelap seketika dan sekarang kutemu titik terang kembali di depan mata. Dimanakah aku sekarang. Sekujur tubuhku rasanya remuk. Di tenga persemayaman para malaikatkah aku sekarang? Serba putih. Menegangkan. Atau rumah sakit. Apa sekarang aku berada di tempat yang sangat aku suka. Aneh? Mingkin. Jelaslah aku menyukai tempat ini karena Ayah akn selalu berubah baik ketika aku terbaring lesi di keranjamg besi rumah sakit. Jujur, aku rela lama-lama disini demi kebaikan Ayah padaku. Beda dirumah, beda pula di rumah sakit. Kekasaran Ayah seketika melentur mendengar aku dan rumah sakit bersatu. Meski masih sedikit menyisakan kegengsian untuk baik padaku. Tapi perubahan membaik dapipada di rumah.
Saying…. Seo sudah bangun?
Aku sekedar menganggukan kepala dan tersenyum sebisaku dihadapan Mamah.
M…maaah?
Iya saying, ada apa?
Kambojja putih dari ayah kok belum ada, Ayah di mana Mah?
Yang kutanya terdiam seribu tutur ucap. Guratan menua dimukanya terlihat semakin murung.
M…..mah
Iyaa sayang, ada apa? Tadi seo tanya Ayah? Tenang ya sayang, mungkin Ayah baru bisa kesini besok, soalnya Ayah masih sibuk. Terang mamah panjang lebar dengan kegugupan.
Ta…tapi Ayah tau kan mah kalo Seo di sini, di RS?
Iya sayang, mamah udah kasih tau Ayah.
Ooooh, syukurlah. Ya sudah mah, kayaknya Seo pengen bobo sebentar. Nanti kalo Ayah sudah datang bangunin Seo ya mah.
Mungkin kali ini pepatah menang. “Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain”. Sudah tiga kali aku terbangun sendiri dari tidurku. Tak ada suara dan tubuh Ayah disampingku. Mamah tak berkomentar. Seperti ada yang aneh.
Sayang, kenapa melamun, gak baik loh. Senyum terpaksa. Mending kita jalan-jalan aja yuh, nanti mamah ambilkan kursi roda dulu.
e..nggak usah mah, Seo pengen di kamar aja. Seo batahan di kamar apalagi kalo ada Ayah.
Seo…? Panggil mamah lembut.
Iya mah. Apa Seo gak benci Ayah, apa Seo tetep sayang Ayah. Lagi-lagi aku hanya bisa menganggukan kepala dan tersenyum untuk menjawab pertanyaan Mamah. Aku tau mamah mungkin pastii masih ragu dengan jawabanku. Aku bisa mereka-reka pikiran mamah. Mana mungkin kekasaran Ayah selama di rumah masih mendapatkan sayang dariku. Tapi sungguh, sayangku ini nyata bukan hampa.
Anak yang baik, tunggu sebentar ya nak, mamah mau mengambilkan titipan Ayah Seo. Ucap mamah sambil mengelus lembut rambut tipisku yang sudah sering rontok kena pengaruh obat yang aku konsumsi, menuju suatu tempat untuk mengambil titipan Ayah.
Ini nak, langsung dibuka saja.
Sebuah surat. Ayah memberiku surat.
Hai Seo
Mungkin saat Seo membaca ini, Ayah sudah pergi ke tempat yang amat sangat jauh dari Seo. Tapi Seo tidak boleh sedih. Seo masih ingat Ayah pernah bilang apa waktu kita pergi ke pantai bareng ibu dulu. “kita akan selalu menjadi keluarga paling sejahtera sedunia dan akan selalu bahagia meski kita tidak berdekat raga”. Maka itu Seo tidak boleh sedih.
Dan maaf Seo. Kemariin-kemarin Ayah sering kasar sama Seo. Sebenarnya Ayah ingin sering-sering dekat dengan Seo, tapi Ayah tidak tega melihat Seo. Jadi………. Seo tau sendiri apa yang sudah Ayah lakukan ke Seo itu sangat menyakitkan.
Sekali lagi maafkan Ayah.
Salam rindu Ayah untuk Seo tersayang.

Dari : Ayah terjahat sedunia

Tak terasa mata-mataku memanas, bulir air turut memanas dan tak mampu kutahan agar gak keluar. Menetes…menetes….menetes. tampias mutiara menggelinding dipipi tirusku. Mamah ikut menagis. “ ini sayang ada satu lagi titipan Ayah. Sela mamah membuatku menolehkan kepala. Mamah mengulurkan sebuket segar kamboja putih dalam genggamnya. Bukan Ayah namanya kalon lupa dengan kesukaanku. tiap kali aku dan rumah sakit bersatu, putih kambojalah hadiah terindah darinya. Inilah alasan kemarin-kemarin aku bertanya pada mamah kok kamboja putih yang biasa ayah antar belum ada. oh ternyata aku mendapatkannya di hari ini. Hari di mana aku hampir dibolehkan pulang oleh dokter. Syukurlah kondosiku membaik, kecuali suasana hatiku cukup memburuk.
Penantianku menunggu sosok kengenanku sia-sia. Yang menjemputku sore ini adalah Kak Lea. Ia masih setia di temani kekasih pujaan pastinya. Mereka ibarat perangko. Kemana-mana menempel terus berdua. Tidak salah pilih juga, karena dia, kak zepo juga sayang padaku. Pakai tanda kutip “sayang sebagai adik loh” ^_^.
Melajulah mobil yang aku tumpangi. Good bye hospital. Semoga ini merupakan pertemuan-perpisahan terakhir aku berkunjung di tempatmu ini. Aku sudah bosan.
Eh kak, kok ini bukan arah jalan pulang. Harusnya kan belok kiri. Kenapa malah lurus. Sela aku pada Kak Zepo yang sedang serius ngdrive. Kata kakak kamu sebelum ke rumah kita akan mampir ke pemak….
Ssssstttt po, ember banget sih. Ucap kak Lea kesal sama kak Zepo yang belum kelar menjawab pertanyaanku.
Sebenernya ada apa sih mah? Kak? Seruku kesal.
Daun-daun kambooa berguguran. Pilu. Sendu beradu memadu angin menerbangkan debu.
Pusara itu masih kemerah-merahan tanah yang baru bertuan. Sedikit pun belum berubah menjadi kecoklatan. Penjelasan mamah yang panjang sudah membuat mudeng.
Ayah, telingaku belum tuli yah. Matku juga belum buta. Kenapa Ayah begitu ceroboh sekali saat menggantarkanku ke RS. Kenapa Ayah bisa tertabrak mobil. Seharusnya Ayah cukup mengangkatku ke keranjang tidur saja dari lantai berlumur darah dan memanggil dokter. Tapi Ayah ngotot mengangkatku ke RS, pakai jalan kaki pula. Berlari puluhan meter. Mamah tak kuasa mencegah keambisiusan Ayah yang begitu mengkhawatirkanku. Jadi, pernyataan Ayah disurat salah besar, Ayah bukan Ayah terjahat melainkan ayah adalah ayah terhebat sedunia.
Mencoba tegar sekuat hati. Tapi yah, kenapa jadi begini. Kenapa ketika aku mulai bisa sedikit bergerak dengan bantuan kursi roda, mati gerak justru menimpamu. Sebulan lewat sudah aku menantimu, sekarang pupuslah sudah atas pergimu meninggalkan aku, mamah, dan Kak Lea.
15 Januari 2001, Bapak Suhendra bin Hardijaksa.
Sore ini di pusara Ayah, akan kujalani tiap sore untuk mengelus nisan ini. Merawatnya juga. Itu pasti yah.
Pepoohonan kamboja yang gemuk menggugurkan bunga-bunga lapuk dan menyemikan yang baru berwarna putih nan suci. Seputih hati Ayah yang akan terus menggebu dihatiku.

31 juli 2012_08.37

peace of life_puisi


SUGUHAN BOLA MATA UNTUK SANG KESENDIRIAN

Menghitung nilai gerak angin
Memisahkan satu per satu rinai air langit untuk kesendirian
Terdampar di area perkotaan negri awan
Terpisahkan oleh orang
Serasa akrab dari ramai-ramai keangkuhan mereka
Akan sampai di mana keangkuhan itu pulih?
Menggantikan baju lusuh sang kesendirian dengan bahan baru
Busana pembungkus daging mentah sang kesendirian malang tanpa berteduh dalam kandang
Terperosok dalam jurang, tercengang dan nyaris menjadi buangan

Sampai disini ada keangkuhan menemu sebuah bola mata yang pulih
Dengan hati, bola mata melabuh riwayat susutnya air mata
Menelusuri hutan mencari celah-celah ruangan untuk penginapan dia-dia agar tidak hilang ingatan
Tersisa sepetak tempat baru di hati karena sebuah masa depan
Dengan hati, si bola mata menjadi induk
Kemudian melaguinya untuk lelap nyenyak di keranjang peyot
Menyapih gengsi di dada menelan unjukan lidah

Ada celah terbuka
Ada rumput bergoyang menjawab sapaan angin
Ada angin berbisik kepada kuping-kuping bola dan juga kuping mata
Belajar menyimak nasibnya di tepi troroar
Tangan-tangan Tuhan turun mengentas pendar panas dari terik
Dia berkenan memolesi jempolnya agar bercahaya kembali seperti mercusuar
Yang pecah kian menaiki anak tangga
Muram marun pada muka dan raga terkelupas
Titian puncak mengelus-elus bibir yang tampak lesi
Menggendong awak yang bermula lumpuh
Menyuapi seadanya pangan ke perut cekingnya
Menyuapi juga ramuan alami tanpa aroma terapi
Menyuapi dengan seluruh cinta
Cinta dari bumi, angin, api, air, beling-beling kaca dan awan
Binar bola membulat menawan
Tuang kasih secawan mengalirkan air dalam kran
Air bening segar sebagai persediaan kering tenggorok sepanjang proses tanam benih
Subur mekar tanpa hama hama
Sentosa tumbuh tanpa cela-cela yang pernah menelantarkan sang kesendirian di kesepian
Memang menyenangkan untuk dapat saling mengerti diantara belahan, cukilan, dan potongan serta bulatan-bulatan kecil tak berbentuk mirip atom, seperti menjadi gelembung-gelembung bahagia, sedih, senang, serta duka merana dalam dunia mata
Patuh mengikuti arah angin
Sebuah janji di mulut laut untuk meninggalkan ibu kandung ketenangan
ke pulau sepi dari reruntuhan bambu-bambu potongan ilegal
setiap sore, setiap pagi sekembali dari lika liku kelana kinestetik orang egois
Pada akhirnya kini masih ada kehidupan
sang kesendirian berhembus nafas lega digandeng bola-bola mata berhati
enggan mengurusi tindak-tanduk setiap sore, setiap pagi orang berhati angkuh tidak mau tau
taunya sekedar kebusukan merupa kotor
padahal sepenuhnya kebusukan bukan untuk ditinggal
dia berjalan mengelilingi perkotaan bersama bola mata dengan menghirup angin sedap malam di bawah kelap-kelip lampu
tak ada yang menyangka jika kota pun kumuh seperti sang kesendirian
Sekali lagi kebusukan bukan untuk ditinggal
telah ada tangan-tangan Tuhan memupuk cinta di pintu kotakan kumuh
ketuk...
masuklah...
silahkan menjaganya agar menjadi santun segar menawan

Purwokerto, 18 januari 2013